Pernah nggak suatu saat kita jalan-jalan ke mall terus kita melihat wanita berseragam khusus sambil mendorong kereta bayi, memanggul tas berisi botol susu atau perlengkapan bayi lainnya?? Pasti pernah dong, . . .so do I !! pemandangan seperti itu juga sering aku jumpai, but there’s a time the story is different.
Ceritanya begini, saat itu minggu sore aku dan seorang temanku makan di sebuah restoran yang terletak di TP4 lantai teratas. Nah, seperti biasanya kita duduk paling pinggir dekat kaca, berharap bisa menemukan sosok yang kita kenal lewat dan bisa di sapa untuk sekedar say hi, . .memang secara psikologis arsitektur terjadi peralihan budaya dan gaya hidup, dulu restaurant-restaurant menutup rapat jendelanya dengan gorden-gorden menjuntai sampai lantai, namun sekarang, sebagaimana yang banyak kita lihat justru kebalikannya, mereka memasang kaca tembus pandang alih-alih menggunakan dinding tertutup, jadi seakan-akan restoran tersebut adalah sebuah etalase yang memajang keramaian pengunjung (yang duduk) sebagai pajangan yang tidak bisa dipungkiri sedikit banyak menarik lebih banyak pengunjung yang penasaran atas keramaian suatu restoran untuk masuk dan mencobanya.
Back to our topic, . .pada saat menunggu menu yang kita pesan datang, ada pemandangan yang biasa, but somehow hari itu tidak biasa, seperti yang telah aku jelaskan diawal tadi, aku melihat sosok wanita berseragam khas sambil mendorong kereta bayi, memanggul tas berisi botol susu atau perlengkapan bayi lainnya, yes she is absolutely a baby sitter. Aku lihat ekspresi wajahnya. . . . . datar, . .sambil mendorong kereta bayi berisi bayi Chinese (I’m not racist okey, moreover Dahlan Iskan and my native mandarin tutor, said that ‘chinese’ is the best and the most polite way to called people from china, or having ancestors from china, it’s as polite as if we called someone Indian, American, etc. but that’s not my point), anyway kelihatannya ia menunggu majikannya belanja atau makan, setelah aku lihat wajahnya lagi well, ini yang bikin aku tersentuh, her face looks like my family assistant (I won’t call her ‘pembantu’) who has been worked for my family since my mother pregnant me, . .well, it has been 20 years. . . .
Okey cukup untuk intronya, . . . . .my point is KENAPA MERAKA HARUS PAKAI SERAGAM??? Karena aku berpikirnya, seragam sebagai pembeda status yang menunjukkan, kamu lho baby sitter, aku lho majikannya. Bukannya orang lain tidak perlu tahu bahwa ia baby sitter sedangkan orang yang berdiri di sebelahnya adalah majikannya??. Kecuali kalau baby sitter itu adalah seseorang yang job desc-nya membantu banyak orang atau semacam public assistant, yang dengan memakai seragam akan membuat orang lain dengan mudah untuk mengenalinya, ambil contoh polisi, satpam, petugas kebersihan, waitress and so on, ..make sense bukan??
Dengan wajah pribumi sedikit menunduk melas tanpa ekspresi ia mondar-mandir mendorong kereta bayi itu dengan seragam baby sitter khas mengenakan sandal ala kadarnya. Kiri-kanannya adalah orang-orang berlalu lalang dengan langkah mantap penuh percaya diri membawa tas belanjaan berlabel sogo, marks&spencer, . . .dikelilingi oleh canda tawa orang-orang yang sedang menikmati makan siang direstauran-restauran mahal (atau relative mahal), yang again, most of them are Chinese, . . . . . . . oh bangsaku, . bangsaku, . .malang nian nasibmu, . . . .hampir saja air mata ini netes, . .cuman nggak jadi, gengsi sama perempuan di depanku, heeeeee,…… ;p
I am imagining, with the same condition, If someday I’ve my own baby sitter for my kids, I’ll treat her well, instead of walking my kids, she should eat with me, together, on the same table, with the same menu, . .and the most important is, she must not wear a uniform, she must not!!!, . . . .perlakukanlah orang sabagaimana anda ingin diperlakukan.
Ada yang bilang dengan mereka memakai seragam, akan menghindarkan atau mengantisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kasus penculikan, penjagaan kebersihan and so on, . .well whatever the reason is, but still I think it’s so naïve, . .about the kidnapping, it won’t solve only with the wear of uniform, it’s not that simple, . . .menurutku masih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya, . . . .
Please this is just my opinion, and of course this is just my assumption, . . . .finally, yes, this is just the way I am, . .peace!!


iya, miris juga ngelihatnya.
gambarnya aku link ya, buat opini aku di blogku (sumber dicantumkan kok).
thx a lot and salam kenal!
mas..mau ikutan
gimana kalo kita gakakein seragam.
tapi itu mbak malah dandan habisss,kalo diajak ke moll dia pake jeans ketat,kaos ketat..
tentu kita makan satu meja, menu yang sama.. tapiiii
untuk pakaian dengan berat hati harus di seragamin.. because
gayanya ituu
kalo aku sih, makein mereka seragam untuk lebih mengangkat derajat mereka karena mereka sendiri yang minta dipakein seragam….katanya lebih keren karena menurut mereka, ga pede kalo jalan di mall pake baju bebas…katanya bajunya jelek…jadi ya it’s up to them. syarat dari aku sih, boleh pake baju bebas tapi rapih, bersih n sopan karena di mall kan kita ga tau bakal ketemu siapa mungkin ketemu client or temen yang pastinya kalo lecek n ga proper kan kita juga yang ga enak ati….
tambahan lagi, percuma dipakein seragam kalo seragamnya buluk n warnanya dah ga keruan…makanya aku pilih seragam juga yang modelnya fancy…ga seragam nanny/babysitter biasa loh…
terus masalah menu makanan, ya aku pilih yang murahan lah..masa aku makan steak import, dia juga ???? please dehhhhh……paling nasi goreng….or sup buntut…